Oleh: mitrabisnis | 28 Mei 2006

HDCI Jatim Kunjungi Kamp Pengungsi Merapi

Desa Purwo Binangun Kecamatan Pakem, Yogyakarta, Jumat 26 Mei 2006 pagi itu tak seperti hari-hari biasanya. Sejak mentari pagi masih malu-malu menunjukkan senyumnya, ternyata sebuah kesibukan sudah terlihat di barak-barak pengungsi bencana alam Gunung Merapi yang ada di lapangan desa. Para orang tua terlihat sibuk tak seperti hari-hari biasanya. Para wanitanya bergiliran memandikan anak-anak mereka, sementara para prianya bergotong royong mengatur sebuah acara sambutan yang sangat sederhana sekali.

“Hari ini mau ada acara kunjungan, den. Kata suami saya ada bapak-bapak naik udug gede dari Surabaya mau memberikan santunan buat kami yang lagi kesusahan ini,” kata Suminah (40) sembari tangannya tetap sibuk merapikan rambut panjang putri bungsunya dengan sisir tua yang tak lengkap lagi giginya.

Penantian yang dirasakan Suminah bersama 200-an KK (Kepala Keluarga) yang tinggal di barak-barak pengungsian itu, sekitar pukul 09.30 pagi terjadi. Sayup-sayup dari arah mulut desa terdengar deruman knalpot Harley Davidson dari rombongan bhakti sosial HDCI Korwil Jatim. Sebanyak 56 motor dan 4 mobil terlihat satu persatu mendekati areal kamp pengungsian.

Kehadiran rombongan para pria berbadan tegap menunggang kuda besi produk Milwaukee, Amerika Serikat, itu menjadi tontonan tersendiri bagi para pengungsi. Anak-anak pengungsi yang berkaki telanjang terlihat berteriak-teriak dan berlarian mendekati anggota rombongan, yang sibuk memarkir motornya di dekat tenda penyambutan. Kekaguman terlihat di wajah-wajah tanpa dosa itu melihat jajaran motor yang berharga ratusan juta rupiah perbuah itu, bahkan beberapa anak-anak dengan lugunya mengelus-elus tangki motor dan berkaca pada pernik-pernik motor yang mengkilap. Motor Road King yang ditunggangi Johny Tan, biker asal Malaysia, dan Heritage Softail yang dikendarai Simon Lee, biker asal Thailand, tak luput dari sasaran kekaguman anak-anak itu.

Setelah keseluruhan peserta kontingen tur datang semua, terlihat seorang pria paro baya datang mendekati Ketua HDCI Jatim, Ir Bagus Haryosuseno selaku kepala rombongan. Setelah kedua pria itu bersalaman dan saling bercengkerama, maka para peserta tur dikumpulkan oleh Kabid Touring HDCI Jatim Agus Siswanto membentuk setengah lingkaran di depan tenda sambutan. Di bawah tatapan para pengungsi, sebuah seremonial sederhana penyerahan bantuan dilakukan oleh Bagus kepada Kepala Desa Purwo Binangun dan Sawito, mewakili pengungsi.

Bantuan yang diberikan pada para pengungsi sangat beragam. Antara lain sembako, air mineral, selimut, dan piranti untuk pembangunan sarana MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus) darurat yang nilainya sekitar Rp 70 juta. Selain itu, sebagaimana kebiasaan para biker HDCI Jatim saat menggelar bhakti sosial, kotak amal spontanitas yang dilakukan berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 2,5 juta dan langsung disampaikan juga.

Menerima bantuan tersebut, terlihat sikap antusias ditunjukan oleh para pengungsi yang hadir dalam acara seserahan itu. Selain tersenyum, bertepuk tangan, terlihat mata dan pipi beberapa pengungsi basah oleh tetesan air matanya. “Kami sangat senang dan berterimakasih sekali atas bantuan yang diberikan oleh bapak-bapak Harley. Apalagi bantuan yang diberikan juga ada uangnya yang hari-hari terakhir ini sangat kami butuhkan,” ujar Kasmito, anggota pengungsi yang sangat membutuhkan uang saku untuk modal dagang rokok yang dibuka di ujung desa.

Kendati sedikit bantuan itu dapat menghibur para pengungsi, ternyata ada sebuah kebutuhan yang dinilai Bagus tak dapat diringankan oleh bantuan-bantuan berupa materi. Menurut pengusaha muda ini, adalah bantuan terhadap faktor psikologis para pengungsi, khususnya pengungsi anak-anak. Pasalnya dalam satu barak pengungsian itu terlihat berjejalan. Pada 4 barak yang tak terlalu luas itu harus dihuni bersama oleh sekitar 27 KK.

Karena itu, peserta rombongan HDCI Jatim berharap pihak-pihak yang berwenang dalam penanganan pengungsi bencana Merapi itu memberikan special attention terhadap psikologis pengungsi. Sehingga nantinya para pengungsi itu tidak mengalami traumatis suasana kehidupan barak saat kembali ke rumah masing-masing. “Sebab traumatis suasana kehidupan barak itu akan sangat kompleks bagi kelanjutan masa depan mereka. Kasihan sekali jika hal itu harus terjadi,” ujar Bagus dengan mata berkaca-kaca. (Prima Sp Vardhana)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: