Oleh: mitrabisnis | 13 November 2006

Telah menjadi rahasia umum, motor Harley Davidson di mata masyarakat awam dinilai sebagai simbol-simbol arogansi dan eksklusifitas. Penilaian miring itu muncul lantaran visualisasi yang selama ini terjadi dalam masyarakat. Saat tour selalu dikawal beberapa mobil Patwal Polda Jatim, misalnya. Atau saat ditunggangi secara individu selalu menyedot perhatian.

Selain itu, tempat kumpul para biker Harley hampir selalu di cafe-cafe mahal, seperti di Cafe Bean, Tunjungan Plaza 4, yang harga segelas kopinya bisa untuk membeli seteko kopi di warung PK-5.

Penilaian negatif yang berlebihan itu, bagi para biker HD dianggap angin lalu. Tak membutuhkan tanggapan dan pelayanan. Namun tidak demikian bagi biker nasional Herry Prayitno.

Pendapat miring masyarakat itu, kata mantan salah satu manajer area pabrik rokok HM Sampoerna ini, harus ditanggapi dan dikoreksi. Pasalnya pendapat miring tsb jika dibiarkan bergulir berpeluang membangun bola salju argumentasi yang berdampak negatif bagi komunitas Harleymania.

“Penilaian negatif masyarakat selama ini salah. Komunitas Harleymania saat tour memerlukan kawalan Patwal, tidak sekadar untuk memuluskan rombongan kami. Namun lebih untuk menyelamatkan pemakai jalan raya lain,” kata bapak dari dua orang anak ini di lobby Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta-Bali, tempat rombongan Pahlawan Tour 2006 bermalam.

Pendapat pemilik Fatboy Custom tahun 2000 dan Electra Glide Standart tahun 2005 ini, dilihat secara teknik dalam mengendarai “kuda besi” produk Milwaukee itu sangat tepat. Bagaimana tidak. Untuk nunggang sebuah HD yang rata-rata memiliki berat sekitar 500 kg itu, bukan pekerjaan gampang.

Seseorang yang sudah “pendekar” mengendarai motor Jepang sebesar dan seberat Honda Tiger 200cc, Suzuki Thunder 250cc atau Kawazaki Merzy 200cc, tidak akan langsung mampu mengendarai sebuah Harley. Mereka pasti akan belajar. Paling cepat sekitar 3 bulan, seseorang yang ahli naik motor jantan mampu mengendarai sebuah Harley.

Naik Harley kok butuh belajar sih? Menurut pengusaha warnet Z-Net ini, karena sebuah Harley dengan volume mesin seperti Sportster XL883 yang cuma 883cc pengendaliannya tak beda dengan HD ber-cc diatasnya. Motor ini baru nyaman tunggangannya saat kecepatannya diatas 60km/jam. Pada kecepatan dibawahnya, motor ini akan terasa berat dan pinginnya rubuh terus.

Dari karakter motor yang membutuhkan kecepatan minimal 60km/jam untuk berjalan nyaman, maka sebuah rombongan penunggang Harley memerlukan sebuah jalan yang bebas dari halangan. Pasalnya walau cuma sebuah motor kecil yang nyelonong menghalangi lari sebuah rombongan Harley, di atas kertas dapat dipastikan akan terjadi kecelakan lalin massa yang akan membawa kurban.

Kurban tragedi ini minimal patah tulang, sementara buat bagi yang bernasib apes pasti tewas ditempat. Dan, dari tragedi massa itu yang paling apes nasibnya adalah pengendara motor kecil itu, karena motor dan pengemudinya pasti akan menjadi pusat tabrakan beruntun.

“Karena itu, saya mewakili komunitas penggemar Harley Davidson mengharap dengan sangat agar masyarakat tidak memvonis negatif akan prosedur kami saat touring rombongan. Sebab kami tidak ingin kegiatan touring sosial kalender rutin komunitas HDCI harus diwarnai dengan sebuah tragedi,” ujarnya.

SEMUA BISA

Tentang penilaian miring lain, bahwa sebuah Harley Davidson divonis masyarakat merupakan salah satu simbol eksklusifitas disaat kesenjangan sosial di Planet Indonesia masih membumi. Ditanggapi salah satu pendiri Fatboy Club Indonesia -klub para pemilik HD Softail Fatboy di Surabaya- ini dengan tertawa ngakak sembari memegangi perutnya yang buncit. Sebab vonis yang ditudingkan msyarakat itu dianggapnya salah kaprah dan tidak memiliki barometer pijakan yang benar.

Memiliki sebuah Harley Davidson, diakui pria romantis berbintang Virgo ini, bukan sebuah hal spesial dan eksklusif. Semua masyarakat yang mampu membeli mobil lansiran baru dengan harga sekitar Rp 200 juta, di atas kertas pasti juga mampu membeli sebuah Harley standart lansiran tahun 1998 s/d 2001. Ironisnya tidak semua anggota masyarakat Indonesia umumnya dan Surabaya khususnya yang mampu membeli mobil seharga Rp 200 jutaan, juga tertarik untuk membeli sebuah Harley. Ini karena seseorang yang “ikhlas” membeli sebuah Harley cuma mereka yang hobbies, sehingga motor yang menjadi simbol kebebasan jiwa pemiliknya ini jumlahnya di Indonesia relatif kecil. Jumlahnya tidak sebanyak mobil seharga Rp 200 jutaan yang merambati jalanan di seluruh Indonesia.

“Mungkin gara-gara jumlah Harley yang beredar di seluruh Indonesia ini cuma sedikit, maka masyarakat menilai harga sebuah Harley lebih mahal dari sebuah mobil. Kalau perbandingan harga Harley dengan mobil tahun produk 1998 kebawah, perbandingan ini yang tidak bisa saya jawab. Sebab perbandingan harga ini bernuansa tendensius, sehingga tidak membutuhkan jawaban apapun,” kata penggila Harley yang terobsesi memiliki sebuah Ultra Classic untuk melengkapi koleksi motornya.

Kendati demikian, pria yang merasa tak akan bisa meninggalkan kegilaannya nunggang Harley ini, tidak bisa menolak jika harga sebuah Harley bisa menembus harga Rp 600 juta saat dalam kondisi custom -istilah modifikasi asesoris atau body di dunia Harley. Apalagi jika asesoris yang ditempelkan produk Genuine HD atau Screaming Eagle tahun terbaru. Ini karena prediksi harga Harley custom itu ada buktinya, yaitu Fatboy miliknya. Bandrol nilai yang menempel pada motor kesanyangannya itu sekitar Rp 650 juta. Melesatnya bandrol nilai itu terdongkrak oleh aktifitas custom yang dilakukan selama ini. Dengan menempelkan asesoris Genuine mulai dari tutup pentil ban di bagian bawah hingga kaca spion di bagian atas yang nilai totalnya mencapai Rp 400 juta, di atas kertas dapat dipastikan Fatboy-nya tak akan laku dilego.

“Prediksi saya tentang nasib Fatboy kesayanganku itu, karena gak bakalan ada biker Indonesia yang iklas untuk melegonya dengan harga Rp 650 juta-an. Karena itu, saya akan melakukan custom lagi pada tangki dan body motornya dengan airbrush gambar wanita cantik dengan goresan yang sangat futuristik,”katanya. (Prima Sp Vardhana)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: